Jar Test

I was thinking about something to post here and I just remember my environmental analysis laboratory months ago. What is that?  Jar Test. In environmental industries, jar tests are mostly applied for the water treatment. Well I will just post a brief and simpler explanation for this jar test. More information can be surfed from the links shared bellow the post 😀

Jar testing is a method of simulating a full scale water treatment process, which provides  system operators a reasonable idea of the way a treatment chemical will behave and operate with a particular type of raw water.  Jar test used to help determine which treatment chemical will work best with their system’s raw water.

The picture in the post, it’s me when i was operating the jar test instrument with 6 beakers being stirred and already being added  with PAC.

In this determination we use chemical, like  Aluminum Sulfate, Polyaluminium Chloride(PAC) as the coagulant for the raw water.  The reaction between the chemicals and the water will form flock which will be settled down . The simple  understanding is, the colloid  from the raw water (which have negative ion) will react with Al3+ from the coagulant which make  the flock formed clump.

This Jar test is carried out with several beakers, usually we use 6 beakers. Then certain and different amounts of the coagulant is added usually, the addition of the chemical is in consecutive  range, e.g. we  add the coagulant agent in 35 ppm, 36 ppm, 37 ppm, 38 ppm, 39 ppm, 40 ppm (this is based on the estimated amount to the condition of the raw water). This range is applied from the previous calculation of how much the coagulant must be added to the raw water. After adding the chemicals to each beaker and stir each of them, watch the coagulation result. If the results show:

35 ppm is = turbid

36 ppm is = less turbid

37 ppm is = clearer

38 ppm is = much clearer

39 ppm is = very clear

40 ppm is = turbid

So, we the maximum concentration of the chemical added is on the 38 ppm. When it exceeds the 38 ppm, the turbidity formed is from the excessive chemical used to coagulate, it is not from the colloid of the raw water.  Then for the big scale of the raw water management is done by the calculation of the chemicals amounts and water.

Read more her: http://www.nesc.wvu.edu/pdf/dw/publications/ontap/2009_tb/jar_testing_dwfsom73.pdf

Fireworks!!

Anyway, udah lama nggak nulis sesuatu  tentang chemie deh. Huehehehe..  Dibanding kebanyakan curhat tentang kegiatan gw di sekolah, bendingan gw cerita tentang chemie. Sesuatu banget kan tuh.. xixixi XD

So today let’s talk about fireworks. Hemmm… tapi bukan Fireworks lagunya Katy Perry loh.. Fireworks, kembang api..

Pertama kita pasti tau kan kalo ada banyak unsur logam di muka bumi ini. Pemanfaatannya juga banyak, hampir mencakup semua bidang di sekitar kita kan. Salah satunya ya dalam industri pembuatan kembang api. Awal mula adanya kembang api itu di Cina sejak 1000 tahun lalu. Awalnya dibuat dari campuran charcoal, sulfur, sama kalium nitrat.  Campurannya kemuadian dikenal sebagai gunpowder, yang akhirnya jadi jadi awal mula perkembangan industri kembang api sekitar tahun 1800an.

Pertama kita perlu tahu kalau nggak semua unsur yang ada di alam bersifat stabil dalam bentuk logamnya. Karena kebanyakan unsur,begitu juga logam ditemukan stabil dalam bentuk persenyawaannya sama unsur lain. Dalam keadaan panas, elektron-elektron dalam unsur logam bersifat nggak stabil. Inilah yang kemudian menjadi dasar pembuatan kembang api. Pada kondisi yang sangat panas, partikel padatan bakalan memberi warna  sebagai hasil dari emisi spektrum molekul yang berada dalam bentuk gasnya.

Kalau di industri kembang api sekarang, logam buat bikik kembag api dikontakkan dengan klorin dalam fase gas saat proses pembakarannya.  Saat pembakaran ini, energi pembakaran bisa mengeksitasi elektron-elektron molekul dari logam. Spektrum warna hasil eksitasi itu kita liat sebagai percikan warna-warni deh.

Kalau dulu sumber klorin yang dipake itu dari KClO3 (kalium klorat), tapi karena bahaya jadi nggak dipake lagi deh (KClO3 bersifat eksplosif kalo bereaksi sama sulfur, bubuk logam, garam ammonium, dan air).  Makanya kalo di gudang bahan kimia sekolah aja, logam kalium disimpen dalam minyak tanah, bisa bahaya kalo kena air, meledak kan gawat. Hehehe.. Yang banyak dipake sekarang malah KClO4 (kalium perklorat) sebagai sumber klorinnya.

Kalau di sekolah, saya pernah belajar tentang reaksi nyala (sebelumnya saya pernah post di blog ini). Jadi dengan manasin beberapa senyawa garam. Misalnya yang pernah dipake untuk uji nyala CaCl2, CuSO4, CrCl3, BaCl2,KCl, NaCl, CoCl2, sama SrCl2. Prinsip uji nyala juga sama dengan prinsip pembuatan kembang api tadi. Tapi buat skala lab uji kualitatif gini tentu aja pembakarannya pake api teklu kecil dan diamati deh nyala yang muncul pada api saat pemanasan.

Dari literatur buku Vogel Analisis Anorganik Kualitatif disebut kalau saat dipanasin CaCl2 memberi warna sindur merah (oranye kemerahan), CuSO4 memberi warna hijau kebiru-biruan, BaCl2 memberi warna hijau kekuningan ,KCl meberi warna lembayung muda,NaCl memberi warna kuning keemasan, sama SrCl2 memberi warna merah. Kurang lebih kalau ngeliat warna kembang api pas lagi lebaran, hajatan, atau tahun baruan mungkin bisa sekalian nginget senyawa-senyawa yang bahan dasar logamnya sama dengan kembang api juga kali yaa.. hueheheh 😀

Source: http://majarimagazine.com/2007/11/che-around-us-the-fireworks/

 

Kuinon dari Kumbang Pengebom

Kita pasti nggak asing kalo denger kumbang. Iya kan? Seperti kebanyakan hewan yang tercipta di bumi kita, kumbang juga punya cara buat mempertahanin diri. Gimanakah kumbang mempertahankan dirinya? Contohnya kumbang yang dikenal dengan nama Kumbang Pengebom punya cara buat pertahanin diri dari serangan predator. Kumbang pengebom pertahanin diri dengan nyemprot penyerang pake campuran panas bahan kimia beracun dari tubuhnya. Wew!!!

Jadi, bisa dibilang kumbang pengebom itu punya zat kimia di dalam kelenjar perutnya. Zat kimia yang beracun itu dikeluarin kumbang saat dia merasa terancam, caranya racun disemprotin pas di sasaran dan pake bunyi letupan keras.

What’s the poisonous substance? Komponen zat beracun kumbang pengebom itu dikenal sebagai 1,4-benzokuinon, 2-metil-1,4-benzokuion, sama air.

Jadi, gimanakah zat kimia itu bisa ada di kumbang pengebom? Check this one out:

Pertama, kelenjar perut kumbang pengebom itu tersusun dari dua bilik. Bilik-bilik itu saling berhubungan. Bilik-dalam kumbang mengandung 1,4-hidrokuinon, 2-metil-1,4-hidrokuion, sama Hidrogen Peroksida (H2O2) yang terlarut di air. Bilik-luar kumbang mengandung larutan air dari enzim peroksidase sama katalase.

Kedua, bilik-dalam sama bilik-luar dihubungkan oleh sebuah tube. Di dalam tube, katup satu arah berfungsi buat mencegah zat di kedua bilik bercampur kalau katup dalam keadaan tertutup. Aliran bakal mengalir dari bilik-dalam ke bilik-luar kalau katup dalam keadaan terbuka.

Ketiga, kalau kumbang pengebom ngerasa terancam, kumbang pengebom ngebuka katup, jadinya isi bilik-dalam ngalir deh tuh ke bilik-luar. And here the reaction starts: Enzim peroksidase nyebabin reaksi antara hidrogen peroksida sama hidrokuinon, hasilnya kuinon. Kalau enzim katalase bisa ngubah hidrogen peroksida jadi air sama oksigen. Reaksi ini bersifat eksotermal. Akhirnya keluarlah zat kuinon sama air panas dengan tekanan tingginya berasal dari O2 yang disemprot kumbang plus bunyi ketupannya.

Take a look at the reaction below:

Unik yaa caranya kumbang pengebom ngeluarin racunnya. Mungkin karena semprotan racunnya yang mengandung panas dan bunyi letupan keras, makanya kumbang ini dinamain kumbang pengebom. Hemmm dan rupanya kuinon ini nggak cuma dipake sama kumbang pengebom,di kumbang jenis lain, di kecoa sama labah-labah juga ada kuinon yang disekresi buat pertahanan diri.

Reference: Kimia Organik Kuliah Singkat Harold Hart-Leslie E.Craine-David J.Hart.

Inside the Chocolate

Saya salah satu orang yang suka coklat.  Pokonya apapun yang ada coklatnya buat saya enak. Itu kenapa saya seneng kalo ngasih seseorang coklat sebagai tanda ucapan maaf dan terimakasih atau sebagai hadiah.hhe

Pernah denger pohon Theobroma cacao?

Dari pohon inilah coklat berasal. Theobroma cacao ini pohon yang tumbuh di daerah tropis di Amerika Tengah. Kata Coklat itu datengnya dari kata Nahuatl Chocolatl, artinya air pahit (biitter water). Coklat pertama kali diproduksi jadi choco bar sama perusahaan “Fry and Sons of Bristol” Inggris (1874).

So gimana coklat diproses?

Biji dari pohon cacao bakal diolah jadi coklat setelah panen. Biji cacao ini difermentasi sekitar seminggu (7hari), terus dikeringin. Bakal lebih bagus kalo pengeringannya dilakuin di bawah sinar matahari langsung. Di industri biji coklat yang udah dibersihin dari pengotor (pasir atau pengotor lain), dipanggag terus ditumbuk. Bagian dalam biji coklat terus dijadiin potongan kecil, namanya Nibs. Setelah Nibs digiling, bisa diperoleh cairan kental, namanya Chocolate Liquor. Chocolate Liquor diekstraksi terpisahlah lemaknya. Lemak coklat (cocoa butter) dipisah dan liquor tadi dikeringin sampai jadi bubuk (cocoa powder). Lemak coklat sendiri nanti jadi bahan dasar pembuatan coklat putih (White Chocolate).

Kalo kita liat kan coklat ada beberapa tuh jenisnya, ada Dark Chocolate, Milk Chocolate, sama White Chocolate. Semuanya itu bahan dasarnya sama dari cacao juga, cuma, beda diproses pengolahannya. Kalo Dark Chocolate itu campuran coklat yang ditambahain sama cocoa butter (lemak coklat), gula, sama vanilla, terus diproes lewat proses conched sama tempered. Dalam proses ini coklat yang diolah didinginkan pada kondisi tertentu juga untuk ngejaga gula sama lemak terkristalisasi di bentuknya yang paling stabil. Kalo Milk chocolate dalam prosesnya, campuran dark chocolate ditambahin susu atau cream. Kalo White chocolate diproses dari lemak coklat (cocoa butter) yang ditambahin susu, lemak susu, dan pemanis.

Viskositas (kekentalan) dan ukuran partikel perlu diperhitiin saat proses pembuatan coklat. Alasannya coklat itu diproses dalam bentuk cairnya kan , nah jadi penting buat perhatiin sifat fisiknya ini. Lemak dalam coklat bisa menurukan  viskositas coklat. Pengganti lemak bisa juga emulsifier semacem lecithin.

Menurut Stephen T. Beckett, Kepala departemen di Nestlé Product Technology Centre, York, England, dan penulis buku “The Science of Chocolate” (Cambridge, U.K.: Royal Society of Chemistry , 2000) ada kurang lebih 800 senyawa kimia di dalam coklat. Coklat itu punya grup polyphenolic (flavanoids atau catechins), senyawa ini bisa jadi anti oksidan buat cegah kolestrol rendah. Untuk milk chocolate, 40 gramnya mengandung 300 mg flavanoids dan catechins. Untuk Dark chocolate bisa lebih banyak.

Walaupun ada manfaatnya juga, sebenernya coklat itu termasuk makanan yang miskin nutrisi.  Coklat itu 25-35 % terdiri dari lemak sama 50% gula. So, konsumsi cokat juga jangan banyak-banyak.

Hemm.. dan apa yang nyebabin coklat bisa bikin mood jadi lebih baik? Nah coklat itu ,terutama coklat hitam, bisa memicu hormon endorfin (hormon yang memberi rasa rileks). You can try this.

Source : majarimagazine.com

Sifat Kimia Minyak Pangan

Hemm, saya mau berbagi sedikit tentang pengujian sifat kimia minyak pangan. Kalau di sekolah, analisis terhadap bahan pangan gini dilakuin di lab analisis kimia terpadu. Minyak atau lemak pangan itu adalah minyak yang bisa dimakan (edible fat) yang bersumber dari bahan nabati atau hewani. Ada banyak sifat kimia yang dimiliki minyak pangan, yakni:

1. Bilangan Asam
Bilangan Asam merupakan ukuran dari jumlah asam lemak bebas, dihitung berdasarkan berat molekul dari asam lemak atau campuran asam lemak. Bilangan asam dinyatakan sebagai jumlah milligram KOH 0,1 N yang dipakai untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam 1 gram minyak atau lemak.

2. Bilangan Penyabunan
Bilangan Penyabunan adalah banyaknya alkali yang dibutuhkan untuk menyabunkan sejumlah contoh minyak. Bilangan penyabunan dinyatakan dalam jumlah milligram kalium hidroksida yang dibutuhkan buat untuk menyabunkan 1 gram minyak. Besarnya bilangan penyabunan ini bergantung sama berat molekul minyak. Minyak dengan bobot molekul rendah akan mempunyai bilangan penyabunan yang lebih tinggi daripada minyak yang bobot molekulnya tinggi.

3. Bilangan Ester
Bilangan Ester adalah banyaknya asam organik yang bersenyawa sebagai ester. Bilangan Ester berhubungan dengan bilangan asam dan penyabunan, Bilangan Ester bisa dihitung sebagai selisih antara bilangan penyabunan dengan bilangan asam.

4. Bahan Tidak Tersabun
Bahan tidak tersabunkan adalah senyawa-senyawa yang sering larut dalam minyak dan tak bisa disabunkan oleh alkali. Bahan tidak tersabun ini berupa alkohol suku tinggi, sterol, zat warna, dan hidrokarbon. Pengujian bahan tak tersabunkan ini bisa dilakuin buat semua jenis minyak pangan tapi nggak sesuai buat minyak pangan yang kandungan senyawa tak tersabunkannya itu tinnggi, misalkan minyak dari hewan laut.

5. Jumlah Asam Lemak Total
Asam lemak total yang ada di dalam minyak pangan bisa diuji dengan metode penyabunan tehadap minyak. Sabun yang terbentuk dari penyabunan minyak dalam alkohol dengan NaOH atau KOH 0,5 N ini setelah dikeringkan terus dilarutkan kembali dalam air. Jumlah asam kemudian dihitung sebagai berat sabun.

6. Bilangan Hehner
Bilangan Hehner adalah presentase jumlah asam lemak yang tidak larut dalam air, ini juga termasuk bahan-bahan yang tidak tersabunkan yang terdapat dalam 100 gram minyak atau lemak. Sebenernya, kebanyakan asam lemak itu tidak larut di dalam air, tapi asam lemak dengan bobot molekul yang rendah sedikit lebih larut dalam air (misalnya minyak susu). Oleh karena itu untuk menghitung banyaknya asam lemak yang larut, dilakukan pengujian bilangan Hehner.

7. Bilangan Reichert-Meissl
Bilangan Reichert-Meissl adalah banyaknya milliliter NaOH 0,1 N yang dipake untuk menetralkan asam lemak yang menguap dan larut dalam air, yang diperoleh dari penyulingan 5 gram minyak atau lemak pada kondisi tertentu.
Perhitungan :
Bilangan Reichert-Meissl = 1,1 x (A-B)
A= jumlah ml NaOH 0,1N untuk titrasi contoh
B=jumlah ml NaOH 0,1N untuk titrasi blanko

8. Bilangan Polenske
Bilangan Polenske adalah banyaknya milliliter NaOH 0,1 N yang dipake untuk menetralkan asam lemak yang menguap dan tidak larut dalam air tapi larut dalam alkohol. Asam lemak yang dipake dalam pengujian ini diperoleh dari penyulingan 5 gram minyak atau lemak.

9. Bilangan Kirschner
Bilangan Kirschner adalah sifat kimia minyak pangan yang spesifik dipake untuk menentukan adanya asam butirat dan asam kaprilat dari suatu lemak. Contoh analisis untuk bilangan Kirschner merupakan destilat yang dipake dari hasil analisa bilangan Reichert-Meissl.

10. Bilangan Iod
Bilangan Iod adalah sifat kimia minyak yang dipake untuk mengetahui banyaknya ikatan rangkap atau ikatan tidak jenuh dalam minyak. Asam lemak tidak jenuh dalam minyak atau lemak mampu menyerap sejumlah iod dan ngebentuk ikatan jenuh. Besarnya jumlah iod yang diserap oleh minyak inilah yang menunjukan banyaknya ikatan rangkap. Bilangan iod dinyatakan dalam jumlah gram iod yang diserap 100 gram minyak atau lemak.
Penentuan bilangan iod ini bisa dilakukan dengan cara Hanus, cara Kaufmann dan Von Hubl, dan cara Wijs.

11. Bilangan Diene
Bilangan Diene adalah ukuran pereaksi dienophilik yang dihitung euivalen dengan jumlah iod yang diserap oleh 100 gram minyak atau lemak. Pengujian ini didasarkan pada reaksi asam lemak dengan pereaksi dienophilik. Sintesa dari diene juga mendasari uji ini, yakni satu ikatan rangkap asam lemak akan mengikat satu molekul dienophilik. Yang dipakai sebagi pereaksi dienophilik yakni maleat anhidrida karena gampang dihitung dengan titrasi. Pengaruh suhu sangat berpengaruh sama hasil analisis. Suhu terlalu tinggi mengakibatkan gugus hidroksil bebas (dalam hidroksi asam lemak atau hidroperoksida dan hasil oksidasi lainnya) bereaksi dengan maleat anhidrida sehingga bilanagan diene yang diperoleh jadi tidak tepat.

12. Bilangan Asetil dan Hidroksi
Bilangan Asetil dan Hidroksi adalah sifat kimia minyak atau lemak untuk menentukan gugusan hidroksil bebas yang sering terdapat dalam minyak atau lemak, baik alam ataupun sintesis (terutama pada minyak jarak, croton oil dan monogliserida).
Bilangan asetil ini dinyatakan sebagai jumlah milligram KOH yang dibutuhkan untuk menetralkan asam asetat yang diperoleh dari penyabunan 1 gram minyak atau lemak atau lilin yang udah di asetilasi.
Bilangan hidroksinya sendiri adalah jumlah asam asetat yang dipake dalm mengesterkan 1 gram minyak atau lemak yag ekuivalen dengan jumlah milligram KOH.

13. Bilangan Peroksida
Bilangan Peroksia merupakan indikator terpenting dalam menentukan kualitas suatu bahan minyak. Asam lemak tidak jenuh dalam minyak bisa mengikat oksigen pada ikatan rangkapnya dan membentuk peroksida. Keberadaan senyawa peeroksida ini akan menurunkan kualitas bahan minyak.

Huaa, rupanya banyak yaaa sifat kimia daalm minyak pangan. Kalau di lab sekolah, yang dianalisis cuma 4 sifat aja, yaitu bilangan penyabunan, bilangan asam, bilangan iod, dan bilangan peroksida. Keempat sifat ini pengujiannya lebih mudah daripada yang lainnya. Hhehhe.
Semoga berguna 🙂

Referensi : Ketaren, S.1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta:Universitas Indonesia

Olah Batu Bara

Belum lama ini, saya sempet baca beberapa hal tentang batu bara. Di postingan sebelumnya saya udah pernah berbagi sedikit info tentang batu bara beserta resiko tambang batu bara. Kali ini saya mau bagi apa yang udah saya tau tentang bahan kimia yang diolah dari batu bara. Batu bara banyak dipake dalam unit pembangkit listrik, karena bahan ini bisa dibakar dengan efisiensi termal yang tinggi, biaya operasi dan pemeliharaan yang rendah, dan fleksibilitasnya yang tinggi. Jadi faktor-faktor ini bisa ngimbangin tingginya biaya pembuatan bahan dari batu bara.

Buat saya agak sedikit susah ngebayangin proses pengolahan bahan batu bara ini (secara belum tau yaa kaya apaan tuh industri pengolahan batu bara, hhe). Yang jelas, dalam pembakaran bahan bakar giling, abu yang keluar dari tungku ketel terbawa bersama gas buang. Abu itu dipisahkan dari gas buang dengan menggunakan presipitator listrik atau alat lain. Abu ini bisa dipake sebagai bahan pencampur dalam pembuatan bata, beton, dan balok bangunan. Secara besar-besaran, abu ini disinter (dipanggang) buat ngehasilin koral beton yang ringan. Jika tidak, bahan ini bisa ngeganggu dan tidak berbahaya.

Petrokimia udah merupakan sumber bahan baku dasar dalam berbagai industri penting, misalnya di industri zat warna, obat-oabatan, pestisida,elastomer dan bahan plastik. Batu bara sebagai bahan bakar cadangan juga udah banyak penerapan konversinya secara kimia. Kebanyakan bahan kimia yang asalnya dari batu bara awalnya didapet melalui proses distilasi destruktif yang ngehasilin bahan-bahan aromatik.

Distilasi Destruktif Batu Bara ? Apakah itu?
Kalau batu bara dipirolisis atau didistilasi dengan pemanasan tanpa kontak sama udara, batu bara bakal terkonversi jadi zat padat, zat cair, dan gas. Jumlah dan sifat produk hasil distilasi ini tergantung sama suhu pirolisis dan jenis batu bara yang diolah. Dalam praktek biasa, suhu tanur kokas dijaga di atas 900 derajat C (bisa juga berkisar antara 500-1000 derajat C). Produk utama proses ini adalah kokas. Kalau proses ini menggunakan suhu 450-700 derajat C, proses ini disebut karbonisasi suhu rendah). Kalau suhu di atas 900 derajat C proses ini disebut karbonisasi suhu tinggi. Karbonisasi suhu rendah lebih banyak mengasilkan zat cair daripada zat gas sedangkan karbonisasi suhu tinggi sebaliknya.

Karbonisasi suhu rendah mengasilkan zat cair yang sangat berbeda dari karbonisasi suhu tinggi, walaupun batu bara yang diolah itu sama. Zat cair hasil karbonisasi suhu rendah lebih banyak ngandung asam ter dan basa terdaripada zat cair karbonisasi suhu tinggi. Zat cair hasil karbonisasi suhu tinggi ini masih belum mantap juga biasanya. Zat cair karbonisasi suhu tinggi berupa air, ter dan minyak ringan mentah dan produk gas karbonisasi suhu tinggi ini berupa hidrogen, metana, etilena, karbon monoksida, karbon dioksida, hidrogen sulfida, ammonia, dan nitrogen. Produk lain selain kokas dari pengolahan batu bara ini dikelompokin dalam bahan kimia batu bara atau hasil sampingan.
Distilasi detruktif batu bara atau karbonisasi batu bara ini adalah contoh tentang konversi batu bara atau pirolisis.

Teori kimia pirolisis batu bara ini di antaranya :
1. Kalau suhu dinaikan, ikatan karbon-karbon alifatik putus terlebih dahulu. Reaksi ini berlangsung di bawah suhu 200 0C.
2. Selanjutnya, hubungan karbon-hidrogen putus pada suhu <600 derajat C
3. Eliminasi kompleks lingkar-hetero dan romatisasi secara berangsur merupakan reaksi penting yang berlangsung selama dekomposisi dan proses karbonisasi
4. Bobot molekul produk antara berkurang secara teratur bersamaan dengan naiknya suhu. Air, karbon monoksida, hidrogen, metana, dan hidrokarbon lainnya terbentuk.
5. Dekomposisi berlangsung maksimum pada suhu antara 600 dan 800 derajat C. Semua reaksi di atas bervariasi bergantung pada laju pemanasan dan suhu yang dicapai.

Baru ini aja yang bisa dibagi tentang pengolahan batu bara, walaupun ini masih gambaran secara singkatnya aja yaa tentang pengenalan pengolahan batu bara sebagai bahan kimia. Hhhheee. Semoga berguna.

Referensi : Austin, George T. 1984. Shreve’s Chemical Process Industries. Mc.Graw-Hill,Inc.

Riskannya di Tambang Batubara

Beberapa minggu kemaren kaka-kaka kelas 4 masih pada sibuk nyariin tempat buat PKL. Hemm, berarti saya taun depan dongg.. hahha. Masihhh lama, tapi pasti gak taunya cepet aja kerasanya ntar. Keinget soal tempat PKL, saya sempet nanya alumnus yang rupanya pernha PKl di salah satu balai penelitian tambang dan batu baru di daerah Bandung.

Hem, denger kata batu bara, saya jadi inget, saya pernah baca beberapa hal tentang batu bara, nggak ada salahnya dibagi lagi kali yaa. Hhhe. Batubara itu kan terbentuk dari tumbuhan purba yang berubah bentuk dari proses fisika dan kimia yang berlangsung selama jutaan tahun. Karena berasal dari material organik yaitu selulosa, udah tentu dong batubara tergolong mineral organik juga.

Singkatnya, reaksi pembentukan batubara itu kayak gini :
5(C6H10O5) —> C20H22O4 + 3CH4 + 8H2O + 6CO2 + CO

Jadi C20H22O4 adalah batubara. Batu bara ini bisa berjenis lignit, sub-bituminus, bituminus, atau antrasit, tergantung dari tingkat pembatubaraan yang dialami. Konsentrasi unsur C juga bakal makin tinggi seiring sama tingkat pembatubaraannya. Nah, dalam pembentukan batu bara ini, ada banyak gas juga yang ikut terbentuk, diantaranya metan, karbon dioksida sama karbon monoksida, dan gas-gas lain. Gas-gas ini bakal masuk dan terperangkap di celah-celah batuan yang ada di sekitar lapisan batubara.

Secara teoretis, jumlah gas metan yang terkumpul pada proses terbentuknya batubara bervolume satu ton adalah 300m3. Kondisi terperangkapnya gas ini bakal terus berlangsung ketika lapisan batubara atau batuan di sekitarnya tersebut terbuka akibat pengaruh alam kaya longsor atau karena penggalian (penambangan).

Hem, di tambang dalam batubara rupanya ada banyak gas-gas yang dibagi jadi gas berbahaya (hazardous gas) dan gas mudah nyala (combustible gas). Gas berbahaya udah pasti adalah gas yang berpotensi ngeganggu kesehatan atau ngakibatin kematian pada manusia. Gas menyala sendiri adalah gas yang punya potensi buat nyebabin kebakaran atau ledakan di dalam tambang. Di tambang dalam ini, gas berbahaya yang sering ditemuin antara lain karbon monoksida (CO), sedangkan yang bisa muncul tapi jarang ditemuin misalnya hidrogen sulfida (H2S), sulfur dioksida (SO2), dan nitrogen dioksida (NO2).

Gas CO adalah gas yang nggak berwarna,nggak berasa, nggak berbau, dan punya berat jenis sebesar 0,967. Di udara biasa, konsentrasinya adalah 0 sampe beberapa ppm, dan nyebar secara merata di udara. CO timbul dari pembakaran yang nggak sempurna, ledakan gas dan debu, swabakar, kebakaran dalam tambang, peledakan (blasting), pembakaran internal pada mesin, dll. Gas ini sangat beracun karena kekuatan ikatan CO terhadap hemoglobin 240-300 kali dibandingkan ikatan oksigen dengan hemoglobin. Ckckc. Wow.. Selain beracun, gas ini sebenarnya juga punya sifat meledak, dengan kadar ambang ledakan adalah 13-72 persen. So pay attention sama kesehatan kita yaa kalau kita lagi di tengah jalan raya terus ada banyak gas knalpot kendaraan, itu kan ada gas COnya. Hemm…

Untuk gas mudah nyala yang ada di tambang batubara, sebagian besar adalah gas metan (CH4). Metan adalah gas ringan dengan berat jenis 0,558, nggak berwarna, dan nggak berbau. Gas ini muncul secara alami di tambang batubara bawah tanah sebagai akibat terbukanya lapisan batubara dan batuan di sekitarnya karena kegiatan penambangan. Dari segi keselamatan tambang, keberadaan metan harus selalu dikontrol karna sifatnya yang bisa meledak itu. Gas metan bisa terbakar dan meledak ketika kadarnya di udara sekitar 5-15 persen dengan ledakan paling hebat pada saat konsentrasinya 9,5 persen terus ada sumber api yang memicunya.

Wah, ngeliat potensi bahaya yang ada di tambang batubara ini kayaknya bikin tambah tau kenapa riskan banget buat kerja di daerah pertambangan yaa. Apalagi kalo kita nggak punya keberanian buat ngehadapin hal-hal bahaya di daerah tambang bisa repot. So, kalo ada yang niat buat ngambil pertambangan sebagai bidang yang mau ditekuni, kayanya harus sering-sering baca tentang tambang dan semua potensi bahayanya juga deh. Justru makin banyak dibaca jangan makin takut juga kali ya. Hehe. Jangan juga motivasi mau ngambil tambang karna soal gaji kerja di pertambangan gede aja, gaji si gede si gede tapi bahayanya juga gede. It’s challenging lah.

Sumber : majarimagazine.com

Alkaloid dari Dart Poison Frog

Ada yang pernah denger dart poison frog? Itu nama kodok beracun, salah satu famili amfibia kecil yang warna kulitnya warna warni gitu. Kodok itu asalnya dari Kosta Rika, Panama, Ekuador, dan Kolombia. Warna kodok ini, biarpun warna-warni dan cerah, tapi itu jadi hal yang menakutkan buat pemangsanya karena pemangsa nggak mau makan kodok ini. Ini karena katak beracun ini mengsekresikan alkaloid beracun dari kelenjar di permukaan kulitnya.

Waaaw… Sanking beracunnya inilah, senyawan hasil sekresi katak ini juga pernah dipake sama masyarakat setempat buat ngeracunin sumpit yang dipake buat berburu, jadilah nama katak ini dart poison frog (dart= sumpit).

Alkaloid sendiri itu adalah senyawa mengandung nitrogen yang bersifat basa dari tumbuhan atau dari hewan, umumnya alkaloid punya struktur yang rumit dan punya sifat farmakologis (faali) yang nyata. Kebanyakan sifatnya pun beracun.

Nah, alkaloid yang terdapat pada kulit katak beracun ini udah diteliti sama para ilmuwan dari The National Institutes of Health dengan cara mengisolasi senyawaan ini dan juga digunakan teknik spektroskopi massa dan spektroskopi NMR untuk memperoleh struktur dari banyak senyawa yang ada dalam sekresi kulit katak ini. Sejauh ini udah ditentukan struktur dari hampir 200 jenis alkaloid dan yang paling beracun dari racun ini adalah batrakotoksin ( dari Phyllobates terribilis), satu dari contoh alkaloid steroid. Racun (toksin) lainnya ada histrionikotoksin (dari Dendrobates histrionicus) sama pumiliotoksin B (dari Dendrobates pumilio).

Hemmmn, sebenernya banyak dari senyawa-senyawa beracun itu diproduksi hanya dalam kuantitas microgram oleh katak beracun ini jadi sintestis laboratorium banyak dikembangin buat mengkonfirmasikan struktur dan juga buat persediaan bahan kajian farmakologis. Ternyata di dalam saraf, sebagian besar senyawaan beracun ini bekerja dengan mempengaruhi transport ion lewat membran sel. Akibat sifat ini, alkaloid ini sekarang dipake buat alat penelitian bidang neurosains.

Nah, semoga info ini berguna. Informasi ini saya baca dari buku Kimia Organik Kuliah Singkat Harold Hart-Leslie E.Craine-David J.Hart. Bukunya tebel banget tapi lengkap tentang organiknya. Apalagi kalo yang mau jadi dokter dan perlu ilmu organik yang berhubungan sama ilmu kedokterannya, mungkin buku ini bisa nambah-nambah ilmu juga. Hhee.