Nggak Ada Yang Salah

Salahkan seseorang berubah? Hahha.

Berubah itu ada yang berdampak baik dan buruk. Hahha. Waktu saya kelas 10 saya pernah masuk dalam peringkat 3 besar di kelas. Keliatannya membanggakan bukan? Sampai-sampai banyak orang yang agak over nanggepin hal itu. Seolah-olah yang dapet rangking kelas itu adalah orang yang tau segalanya dan nggak hidup dalam kemungkinan untuk gagal. Saya tau rasanya saat di posisi itu, saat orang-orang seakan ngebanggain hal yang saya dapet. Tapi mereka nggak tau apa yang ada dalam diri saya saat saya memiliki hal itu. Hahha. Aneh memang.

Rangking bukanlah indikator keberhasilan seseorang dalam menempuh keberhasilan cita-citanya (menurut saya). *hahha, kaya hidup udah berpengalaman banget yaaa* Tapi bener lho, ini berdasarkan pengalaman yang saya liat dari orang lain. Pengalaman saya buat duduk di peringkat juara kelas merupakan pengalaman yang berharga buat saya. Tapi gimana kalau suatu hari posisi itu nggak lagi jadi milik saya? Karena yang pasti hidup itu selalu berputar dan perputaran itu pasti ada sebabnya. Hhee. I feel that.

Dan gimana dengan respon orang lain terhadap perputaran itu? Yang pasti persiapkan diri dengan kritik dan omongan mereka. Memang mereka nggak secara langsung nanggapin perputaran itu, tapi sikap mereka yang secara nggak langsung meng’underestimate kemampuan kita. Seolah ada hal yang sangat salah sama perubahan semacem itu. Padahal mereka nggak tau apa-apa tentang perkembangan yang lagi dialami sang mantan juara. Hheehe. Ada banyak hal yang bisa mengembangkan kemampuan dan karakter seseorang dan itu nggak cuma keliatan dari rangking aja.

Dulu, waktu saya SMP saya juga pernah jadi juara kelas. Sayangnya saya jadi orang yang kesannya terisolasi dari dunia luar, hahha (bukan berarti semua orang yang juara kelas itu keliatan kaya gini yaa. Emang sayanya aja yang aneh saat itu). Saya sempet nanya sama temen baik saya dari kelas 3 SD. Dia bilang kalau dulu saya orang yang bahkan nggak tau apa-apa acara di TV. Waktu dia bilang gitu, saya nggak nyangka kalo saya ampe agak kuper segitunya. Hahaa. Bisa dibilang saat itu yang saya tau cuma sekedar belajar dan dapet nilai setinggi-tingginya. Hhaha. Itu nggak nyaman buat saya!!

So, saat saya masuk di sekolah menengah atas, saya belajar banyak hal tentang sikap dalam nanggepin hal di sekeliling saya yang nggak saya dapet waktu saya SMP dulu, mulai dari komunikasi sama orang lain, jadi pemimpin suatu organisasi, bertukar pikiran dan bagi pengalaman sama berbagai orang, yang jelas hal-hal yang ngebuat saya ngerasa ada yang bikin saya lebih bertumbuh.

Satu hal yang pasti, hanya diri kita sendirilah yang tau tentang hal yang kita alamin, hal yang kita mau, dan semua yang masuk dalam keinginan kita ke depan. Nggak ada untungnya dengerin ocehan orang lain yang seolah menyalahkan diri kita atas kekurangan dan perubahan kita. Hal yang wajar buat seseorang ngalamin perubahan selama perubahan itu ada di koridor perubahan yang positif. Hhhe 🙂

Advertisements

Sifat Kimia Minyak Pangan

Hemm, saya mau berbagi sedikit tentang pengujian sifat kimia minyak pangan. Kalau di sekolah, analisis terhadap bahan pangan gini dilakuin di lab analisis kimia terpadu. Minyak atau lemak pangan itu adalah minyak yang bisa dimakan (edible fat) yang bersumber dari bahan nabati atau hewani. Ada banyak sifat kimia yang dimiliki minyak pangan, yakni:

1. Bilangan Asam
Bilangan Asam merupakan ukuran dari jumlah asam lemak bebas, dihitung berdasarkan berat molekul dari asam lemak atau campuran asam lemak. Bilangan asam dinyatakan sebagai jumlah milligram KOH 0,1 N yang dipakai untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam 1 gram minyak atau lemak.

2. Bilangan Penyabunan
Bilangan Penyabunan adalah banyaknya alkali yang dibutuhkan untuk menyabunkan sejumlah contoh minyak. Bilangan penyabunan dinyatakan dalam jumlah milligram kalium hidroksida yang dibutuhkan buat untuk menyabunkan 1 gram minyak. Besarnya bilangan penyabunan ini bergantung sama berat molekul minyak. Minyak dengan bobot molekul rendah akan mempunyai bilangan penyabunan yang lebih tinggi daripada minyak yang bobot molekulnya tinggi.

3. Bilangan Ester
Bilangan Ester adalah banyaknya asam organik yang bersenyawa sebagai ester. Bilangan Ester berhubungan dengan bilangan asam dan penyabunan, Bilangan Ester bisa dihitung sebagai selisih antara bilangan penyabunan dengan bilangan asam.

4. Bahan Tidak Tersabun
Bahan tidak tersabunkan adalah senyawa-senyawa yang sering larut dalam minyak dan tak bisa disabunkan oleh alkali. Bahan tidak tersabun ini berupa alkohol suku tinggi, sterol, zat warna, dan hidrokarbon. Pengujian bahan tak tersabunkan ini bisa dilakuin buat semua jenis minyak pangan tapi nggak sesuai buat minyak pangan yang kandungan senyawa tak tersabunkannya itu tinnggi, misalkan minyak dari hewan laut.

5. Jumlah Asam Lemak Total
Asam lemak total yang ada di dalam minyak pangan bisa diuji dengan metode penyabunan tehadap minyak. Sabun yang terbentuk dari penyabunan minyak dalam alkohol dengan NaOH atau KOH 0,5 N ini setelah dikeringkan terus dilarutkan kembali dalam air. Jumlah asam kemudian dihitung sebagai berat sabun.

6. Bilangan Hehner
Bilangan Hehner adalah presentase jumlah asam lemak yang tidak larut dalam air, ini juga termasuk bahan-bahan yang tidak tersabunkan yang terdapat dalam 100 gram minyak atau lemak. Sebenernya, kebanyakan asam lemak itu tidak larut di dalam air, tapi asam lemak dengan bobot molekul yang rendah sedikit lebih larut dalam air (misalnya minyak susu). Oleh karena itu untuk menghitung banyaknya asam lemak yang larut, dilakukan pengujian bilangan Hehner.

7. Bilangan Reichert-Meissl
Bilangan Reichert-Meissl adalah banyaknya milliliter NaOH 0,1 N yang dipake untuk menetralkan asam lemak yang menguap dan larut dalam air, yang diperoleh dari penyulingan 5 gram minyak atau lemak pada kondisi tertentu.
Perhitungan :
Bilangan Reichert-Meissl = 1,1 x (A-B)
A= jumlah ml NaOH 0,1N untuk titrasi contoh
B=jumlah ml NaOH 0,1N untuk titrasi blanko

8. Bilangan Polenske
Bilangan Polenske adalah banyaknya milliliter NaOH 0,1 N yang dipake untuk menetralkan asam lemak yang menguap dan tidak larut dalam air tapi larut dalam alkohol. Asam lemak yang dipake dalam pengujian ini diperoleh dari penyulingan 5 gram minyak atau lemak.

9. Bilangan Kirschner
Bilangan Kirschner adalah sifat kimia minyak pangan yang spesifik dipake untuk menentukan adanya asam butirat dan asam kaprilat dari suatu lemak. Contoh analisis untuk bilangan Kirschner merupakan destilat yang dipake dari hasil analisa bilangan Reichert-Meissl.

10. Bilangan Iod
Bilangan Iod adalah sifat kimia minyak yang dipake untuk mengetahui banyaknya ikatan rangkap atau ikatan tidak jenuh dalam minyak. Asam lemak tidak jenuh dalam minyak atau lemak mampu menyerap sejumlah iod dan ngebentuk ikatan jenuh. Besarnya jumlah iod yang diserap oleh minyak inilah yang menunjukan banyaknya ikatan rangkap. Bilangan iod dinyatakan dalam jumlah gram iod yang diserap 100 gram minyak atau lemak.
Penentuan bilangan iod ini bisa dilakukan dengan cara Hanus, cara Kaufmann dan Von Hubl, dan cara Wijs.

11. Bilangan Diene
Bilangan Diene adalah ukuran pereaksi dienophilik yang dihitung euivalen dengan jumlah iod yang diserap oleh 100 gram minyak atau lemak. Pengujian ini didasarkan pada reaksi asam lemak dengan pereaksi dienophilik. Sintesa dari diene juga mendasari uji ini, yakni satu ikatan rangkap asam lemak akan mengikat satu molekul dienophilik. Yang dipakai sebagi pereaksi dienophilik yakni maleat anhidrida karena gampang dihitung dengan titrasi. Pengaruh suhu sangat berpengaruh sama hasil analisis. Suhu terlalu tinggi mengakibatkan gugus hidroksil bebas (dalam hidroksi asam lemak atau hidroperoksida dan hasil oksidasi lainnya) bereaksi dengan maleat anhidrida sehingga bilanagan diene yang diperoleh jadi tidak tepat.

12. Bilangan Asetil dan Hidroksi
Bilangan Asetil dan Hidroksi adalah sifat kimia minyak atau lemak untuk menentukan gugusan hidroksil bebas yang sering terdapat dalam minyak atau lemak, baik alam ataupun sintesis (terutama pada minyak jarak, croton oil dan monogliserida).
Bilangan asetil ini dinyatakan sebagai jumlah milligram KOH yang dibutuhkan untuk menetralkan asam asetat yang diperoleh dari penyabunan 1 gram minyak atau lemak atau lilin yang udah di asetilasi.
Bilangan hidroksinya sendiri adalah jumlah asam asetat yang dipake dalm mengesterkan 1 gram minyak atau lemak yag ekuivalen dengan jumlah milligram KOH.

13. Bilangan Peroksida
Bilangan Peroksia merupakan indikator terpenting dalam menentukan kualitas suatu bahan minyak. Asam lemak tidak jenuh dalam minyak bisa mengikat oksigen pada ikatan rangkapnya dan membentuk peroksida. Keberadaan senyawa peeroksida ini akan menurunkan kualitas bahan minyak.

Huaa, rupanya banyak yaaa sifat kimia daalm minyak pangan. Kalau di lab sekolah, yang dianalisis cuma 4 sifat aja, yaitu bilangan penyabunan, bilangan asam, bilangan iod, dan bilangan peroksida. Keempat sifat ini pengujiannya lebih mudah daripada yang lainnya. Hhehhe.
Semoga berguna 🙂

Referensi : Ketaren, S.1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta:Universitas Indonesia

Olah Batu Bara

Belum lama ini, saya sempet baca beberapa hal tentang batu bara. Di postingan sebelumnya saya udah pernah berbagi sedikit info tentang batu bara beserta resiko tambang batu bara. Kali ini saya mau bagi apa yang udah saya tau tentang bahan kimia yang diolah dari batu bara. Batu bara banyak dipake dalam unit pembangkit listrik, karena bahan ini bisa dibakar dengan efisiensi termal yang tinggi, biaya operasi dan pemeliharaan yang rendah, dan fleksibilitasnya yang tinggi. Jadi faktor-faktor ini bisa ngimbangin tingginya biaya pembuatan bahan dari batu bara.

Buat saya agak sedikit susah ngebayangin proses pengolahan bahan batu bara ini (secara belum tau yaa kaya apaan tuh industri pengolahan batu bara, hhe). Yang jelas, dalam pembakaran bahan bakar giling, abu yang keluar dari tungku ketel terbawa bersama gas buang. Abu itu dipisahkan dari gas buang dengan menggunakan presipitator listrik atau alat lain. Abu ini bisa dipake sebagai bahan pencampur dalam pembuatan bata, beton, dan balok bangunan. Secara besar-besaran, abu ini disinter (dipanggang) buat ngehasilin koral beton yang ringan. Jika tidak, bahan ini bisa ngeganggu dan tidak berbahaya.

Petrokimia udah merupakan sumber bahan baku dasar dalam berbagai industri penting, misalnya di industri zat warna, obat-oabatan, pestisida,elastomer dan bahan plastik. Batu bara sebagai bahan bakar cadangan juga udah banyak penerapan konversinya secara kimia. Kebanyakan bahan kimia yang asalnya dari batu bara awalnya didapet melalui proses distilasi destruktif yang ngehasilin bahan-bahan aromatik.

Distilasi Destruktif Batu Bara ? Apakah itu?
Kalau batu bara dipirolisis atau didistilasi dengan pemanasan tanpa kontak sama udara, batu bara bakal terkonversi jadi zat padat, zat cair, dan gas. Jumlah dan sifat produk hasil distilasi ini tergantung sama suhu pirolisis dan jenis batu bara yang diolah. Dalam praktek biasa, suhu tanur kokas dijaga di atas 900 derajat C (bisa juga berkisar antara 500-1000 derajat C). Produk utama proses ini adalah kokas. Kalau proses ini menggunakan suhu 450-700 derajat C, proses ini disebut karbonisasi suhu rendah). Kalau suhu di atas 900 derajat C proses ini disebut karbonisasi suhu tinggi. Karbonisasi suhu rendah lebih banyak mengasilkan zat cair daripada zat gas sedangkan karbonisasi suhu tinggi sebaliknya.

Karbonisasi suhu rendah mengasilkan zat cair yang sangat berbeda dari karbonisasi suhu tinggi, walaupun batu bara yang diolah itu sama. Zat cair hasil karbonisasi suhu rendah lebih banyak ngandung asam ter dan basa terdaripada zat cair karbonisasi suhu tinggi. Zat cair hasil karbonisasi suhu tinggi ini masih belum mantap juga biasanya. Zat cair karbonisasi suhu tinggi berupa air, ter dan minyak ringan mentah dan produk gas karbonisasi suhu tinggi ini berupa hidrogen, metana, etilena, karbon monoksida, karbon dioksida, hidrogen sulfida, ammonia, dan nitrogen. Produk lain selain kokas dari pengolahan batu bara ini dikelompokin dalam bahan kimia batu bara atau hasil sampingan.
Distilasi detruktif batu bara atau karbonisasi batu bara ini adalah contoh tentang konversi batu bara atau pirolisis.

Teori kimia pirolisis batu bara ini di antaranya :
1. Kalau suhu dinaikan, ikatan karbon-karbon alifatik putus terlebih dahulu. Reaksi ini berlangsung di bawah suhu 200 0C.
2. Selanjutnya, hubungan karbon-hidrogen putus pada suhu <600 derajat C
3. Eliminasi kompleks lingkar-hetero dan romatisasi secara berangsur merupakan reaksi penting yang berlangsung selama dekomposisi dan proses karbonisasi
4. Bobot molekul produk antara berkurang secara teratur bersamaan dengan naiknya suhu. Air, karbon monoksida, hidrogen, metana, dan hidrokarbon lainnya terbentuk.
5. Dekomposisi berlangsung maksimum pada suhu antara 600 dan 800 derajat C. Semua reaksi di atas bervariasi bergantung pada laju pemanasan dan suhu yang dicapai.

Baru ini aja yang bisa dibagi tentang pengolahan batu bara, walaupun ini masih gambaran secara singkatnya aja yaa tentang pengenalan pengolahan batu bara sebagai bahan kimia. Hhhheee. Semoga berguna.

Referensi : Austin, George T. 1984. Shreve’s Chemical Process Industries. Mc.Graw-Hill,Inc.

Riskannya di Tambang Batubara

Beberapa minggu kemaren kaka-kaka kelas 4 masih pada sibuk nyariin tempat buat PKL. Hemm, berarti saya taun depan dongg.. hahha. Masihhh lama, tapi pasti gak taunya cepet aja kerasanya ntar. Keinget soal tempat PKL, saya sempet nanya alumnus yang rupanya pernha PKl di salah satu balai penelitian tambang dan batu baru di daerah Bandung.

Hem, denger kata batu bara, saya jadi inget, saya pernah baca beberapa hal tentang batu bara, nggak ada salahnya dibagi lagi kali yaa. Hhhe. Batubara itu kan terbentuk dari tumbuhan purba yang berubah bentuk dari proses fisika dan kimia yang berlangsung selama jutaan tahun. Karena berasal dari material organik yaitu selulosa, udah tentu dong batubara tergolong mineral organik juga.

Singkatnya, reaksi pembentukan batubara itu kayak gini :
5(C6H10O5) —> C20H22O4 + 3CH4 + 8H2O + 6CO2 + CO

Jadi C20H22O4 adalah batubara. Batu bara ini bisa berjenis lignit, sub-bituminus, bituminus, atau antrasit, tergantung dari tingkat pembatubaraan yang dialami. Konsentrasi unsur C juga bakal makin tinggi seiring sama tingkat pembatubaraannya. Nah, dalam pembentukan batu bara ini, ada banyak gas juga yang ikut terbentuk, diantaranya metan, karbon dioksida sama karbon monoksida, dan gas-gas lain. Gas-gas ini bakal masuk dan terperangkap di celah-celah batuan yang ada di sekitar lapisan batubara.

Secara teoretis, jumlah gas metan yang terkumpul pada proses terbentuknya batubara bervolume satu ton adalah 300m3. Kondisi terperangkapnya gas ini bakal terus berlangsung ketika lapisan batubara atau batuan di sekitarnya tersebut terbuka akibat pengaruh alam kaya longsor atau karena penggalian (penambangan).

Hem, di tambang dalam batubara rupanya ada banyak gas-gas yang dibagi jadi gas berbahaya (hazardous gas) dan gas mudah nyala (combustible gas). Gas berbahaya udah pasti adalah gas yang berpotensi ngeganggu kesehatan atau ngakibatin kematian pada manusia. Gas menyala sendiri adalah gas yang punya potensi buat nyebabin kebakaran atau ledakan di dalam tambang. Di tambang dalam ini, gas berbahaya yang sering ditemuin antara lain karbon monoksida (CO), sedangkan yang bisa muncul tapi jarang ditemuin misalnya hidrogen sulfida (H2S), sulfur dioksida (SO2), dan nitrogen dioksida (NO2).

Gas CO adalah gas yang nggak berwarna,nggak berasa, nggak berbau, dan punya berat jenis sebesar 0,967. Di udara biasa, konsentrasinya adalah 0 sampe beberapa ppm, dan nyebar secara merata di udara. CO timbul dari pembakaran yang nggak sempurna, ledakan gas dan debu, swabakar, kebakaran dalam tambang, peledakan (blasting), pembakaran internal pada mesin, dll. Gas ini sangat beracun karena kekuatan ikatan CO terhadap hemoglobin 240-300 kali dibandingkan ikatan oksigen dengan hemoglobin. Ckckc. Wow.. Selain beracun, gas ini sebenarnya juga punya sifat meledak, dengan kadar ambang ledakan adalah 13-72 persen. So pay attention sama kesehatan kita yaa kalau kita lagi di tengah jalan raya terus ada banyak gas knalpot kendaraan, itu kan ada gas COnya. Hemm…

Untuk gas mudah nyala yang ada di tambang batubara, sebagian besar adalah gas metan (CH4). Metan adalah gas ringan dengan berat jenis 0,558, nggak berwarna, dan nggak berbau. Gas ini muncul secara alami di tambang batubara bawah tanah sebagai akibat terbukanya lapisan batubara dan batuan di sekitarnya karena kegiatan penambangan. Dari segi keselamatan tambang, keberadaan metan harus selalu dikontrol karna sifatnya yang bisa meledak itu. Gas metan bisa terbakar dan meledak ketika kadarnya di udara sekitar 5-15 persen dengan ledakan paling hebat pada saat konsentrasinya 9,5 persen terus ada sumber api yang memicunya.

Wah, ngeliat potensi bahaya yang ada di tambang batubara ini kayaknya bikin tambah tau kenapa riskan banget buat kerja di daerah pertambangan yaa. Apalagi kalo kita nggak punya keberanian buat ngehadapin hal-hal bahaya di daerah tambang bisa repot. So, kalo ada yang niat buat ngambil pertambangan sebagai bidang yang mau ditekuni, kayanya harus sering-sering baca tentang tambang dan semua potensi bahayanya juga deh. Justru makin banyak dibaca jangan makin takut juga kali ya. Hehe. Jangan juga motivasi mau ngambil tambang karna soal gaji kerja di pertambangan gede aja, gaji si gede si gede tapi bahayanya juga gede. It’s challenging lah.

Sumber : majarimagazine.com

Alkaloid dari Dart Poison Frog

Ada yang pernah denger dart poison frog? Itu nama kodok beracun, salah satu famili amfibia kecil yang warna kulitnya warna warni gitu. Kodok itu asalnya dari Kosta Rika, Panama, Ekuador, dan Kolombia. Warna kodok ini, biarpun warna-warni dan cerah, tapi itu jadi hal yang menakutkan buat pemangsanya karena pemangsa nggak mau makan kodok ini. Ini karena katak beracun ini mengsekresikan alkaloid beracun dari kelenjar di permukaan kulitnya.

Waaaw… Sanking beracunnya inilah, senyawan hasil sekresi katak ini juga pernah dipake sama masyarakat setempat buat ngeracunin sumpit yang dipake buat berburu, jadilah nama katak ini dart poison frog (dart= sumpit).

Alkaloid sendiri itu adalah senyawa mengandung nitrogen yang bersifat basa dari tumbuhan atau dari hewan, umumnya alkaloid punya struktur yang rumit dan punya sifat farmakologis (faali) yang nyata. Kebanyakan sifatnya pun beracun.

Nah, alkaloid yang terdapat pada kulit katak beracun ini udah diteliti sama para ilmuwan dari The National Institutes of Health dengan cara mengisolasi senyawaan ini dan juga digunakan teknik spektroskopi massa dan spektroskopi NMR untuk memperoleh struktur dari banyak senyawa yang ada dalam sekresi kulit katak ini. Sejauh ini udah ditentukan struktur dari hampir 200 jenis alkaloid dan yang paling beracun dari racun ini adalah batrakotoksin ( dari Phyllobates terribilis), satu dari contoh alkaloid steroid. Racun (toksin) lainnya ada histrionikotoksin (dari Dendrobates histrionicus) sama pumiliotoksin B (dari Dendrobates pumilio).

Hemmmn, sebenernya banyak dari senyawa-senyawa beracun itu diproduksi hanya dalam kuantitas microgram oleh katak beracun ini jadi sintestis laboratorium banyak dikembangin buat mengkonfirmasikan struktur dan juga buat persediaan bahan kajian farmakologis. Ternyata di dalam saraf, sebagian besar senyawaan beracun ini bekerja dengan mempengaruhi transport ion lewat membran sel. Akibat sifat ini, alkaloid ini sekarang dipake buat alat penelitian bidang neurosains.

Nah, semoga info ini berguna. Informasi ini saya baca dari buku Kimia Organik Kuliah Singkat Harold Hart-Leslie E.Craine-David J.Hart. Bukunya tebel banget tapi lengkap tentang organiknya. Apalagi kalo yang mau jadi dokter dan perlu ilmu organik yang berhubungan sama ilmu kedokterannya, mungkin buku ini bisa nambah-nambah ilmu juga. Hhee.