Human Errors at Laboratory (Part 2)

Waktu itu Reza lagi menitar contoh yang udah dimasukin di erlenmeyer. Awalnya sih dia asik-asik aja nitar, seolah-olah gag ada yang salah sama contoh margarin yang dia titar. Sayangnya Reza nggak ngedapetin titik akhir penitaran.
“ Don, gimana nih belum TA (titik akhir) TA nih don. Warna merahnya malah di permukaan doang don “ kata Reza ke saya.

“ Masa iya, coba dulu liat itu ada endapan merah batanya nggak ” jawab saya.

“ Lah, ini gimana mau ngeliat TA’nya, warnanya keruh gini, kecampur sama asam lemaknya” kata Reza.

Akhirnya, tentu aja kita tanya lagi sama Pak Thamin.

“Bapak, ini contoh yang kedua kalinya kita lakuin, langsung dilarutin dan dititar di Erlenmeyer. Tapi susah Pak, TA’nya nggak keliatan. Warna merah batanya terbentuk di permukaan Pak, ini artinya udah TA atau belum Pak? ” kata Reza.

Bapak langung bilang, “ Wah, kalian ini bagaimana sih. Tadi kan awalnya Bapak suruh saring saja yang udah di labu ukur 100 ml, kenapa langsung di Erlenmeyer begini, asam lemak yang terbentuk ini kan mengganggu pengamatan titik akhir. Kalau disaring nggak bakal begini. Makanya, tadi Bapak suruh kalian saring dulu, malah langsung diulang dalam Erlenmeyer gini. Inilah, Bapak nggak suka kalau siswa sudah bertanya kepada Bapak tapi tidak dilakukan.”

Huaaaa.. saya sama Reza Cuma ngomong maaf banget ke Pak Thamin. Kami pikir, karena baik disaring ataupun langsung di Erlenmeyer kan bakal sama aja. Tau taunya malah diomelin lagi gara-gara sok tau sendiri. Ckckck.

“ Udah, ini sudah TA kalau kamu lihat endapan merah yang samar-samar ini (sambil menunjukan endapan yang terbentuk di dasar Erlenmeyer). Di sini terbentuk koloid,karena warna merah di permukaan (sambil menghomogenkan larutan). Sudah terlanjur yaa mau diapakan” , tambah Pak Thamin lagi.

Dodolnya lagi, saya bilang “ Ya udah Pak kalau gitu duplonya berarti kita lakuin dengan contoh disaring ya Pak.”

Bapak jawab “ Kok duplo? Kalau simplo duplo itu kan perlakuannya harus sama. Berarti kalian harus ngelakuin yang sama untuk duplonya. Bagaimana sih ini pemikirannya? Aduh ”

Huaaaaa.. Maklum deh karena udah bingung, saya jadinya tambah error sendiri deh dengan nanya begitu.. Maaf yaaa Pak. Janji deh nggak bakal nanya gitu lagi Pak. Hhhe Inilah human error ketiga.

Akhirnya, saya sama Reza mutusin lagi buat ngelakuin perintah awal Pak Thamin alias ngulang lagi. Saya nimbang contoh lagi, sedangkan Reza sibuk ngurusin ikan asin untuk dipijarin.Saya mulai melarutkan contoh, memasukkannya dalam labu ukur 100 ml, dan menghimpitkannya, hingga akhirnya menyaring contoh. Maka didapetlah, filtrat yang udah terpisah sama asam lemaknya itu. Contoh dipipet 10,00 ml, dimasukan dalam Erlenmeyer, ditambahkan MgO dan indikator K2Cr2O7 dan diencerkan. Selesai itu, saya laporan dulu sama Pak Thamin, dan Bapak nggak komplain apa-apa. Alhasil pun penitaran sampai TA endapan merah bata. Thanks God.

Emm ada lagi yang nggak beda dodolnya sama tingkah saya. Waktu itu di dalam ruang timbang, saya mau ngambil desikator , saya ketemu sama Gilang dan Angel.

“ Kan udah gw bilang Gilang, ini tuh labu didih bukan labu lemak. Labu lemak itu kan dipake buat nimbang pasti bisa didiriin. Lu semua sih pada nggak percaya sama gw kan?!” kata Angel.

“Ih kan bukan gw tadi yang bilang. Si Ayi bilang ini tuh labu lemak. Yang lu tunjuk tadi tadi tuh kata Ayi labu Kjeldahl.” kata Gilang sambil ngebela diri dan nyalahin orang lain.

“Udah ah, gw mah kesel. Dimana-mana labu lemak tuh pasti bisa didiriin. Gw inget banget ko” tambah si Angel.

Angel udah kesel banget waktu itu, tapi si Gilang malah kebingungan tampangnya. Saya cuma ketawa aja ngedenger mereka berdua.

Ternyata mereka salah ngambil labu. Hihiihi. Labu lemak itu kan punya khas sendiri, dasar labu itu rata, jadi bisa berdiri tegak untuk ditimbang. Beda dengan labu didih yang, dasarnya itu nggak rata, jadi nggak bisa didiriin. Aduh, yang parah, kenapa Ayi bilang labu lemak itu labu Kjeldahl yaa? Tambang bingung saya. Jelas-jelas labu Kjeldahl itu panjang dan nggak bantet kaya labu lemak. Hoho =…=??? Emang dasar, semoga ini the last human error I’ve seen.

Itulah beberapa human errors yang menimpa saya sama temen-temen yang lain waktu kami praktek. Jangan-jangan saya ketularan sama Angel atau Gilang kali yaa.hhaa. Maklum lah, kan masih baru di lab AKT, jadi belum lihai. Hhe. It was an exhausting day for me. Saya sendiri nggak keluar-keluar dari lab, mulai dari jam setengah 8 pagi sampai jam setengah 2 siang. Tapi, seru banget. I enjoyed that so much 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s